WEDDING HELL

Bab 2 You're Fire. I'm The Gasoline.

Bab 2You're Fire, I'm The Gasoline.

Tahu apa yang paling dibenci Sasuke sekarang?

Terjebak dalam segala tetek bengek protokoler ala bangsawan Hyuuga. Bahkan segala hal yang harusnya sederhana selalu menjadi rumit dan memuakkan.

Ada apa dengan upacara minum teh? Untuk apa dia harus datang? Pun dengan hakama yang terasa asing di tubuhnya demi sesuatu yang semu berupa perayaan pertunangannya.

Apanya yang perlu dirayakan? Hanya karena dia berhasil menyematkan cincin mahal di jari manis anak gadisnya lalu Hyuuga Hiashi memberikan previlage khusus untuknya menuju kediaman besar utama.

Sasuke benci berada di tempat itu. Rumah induk besar dengan arsitektur jepang kuno. Dengan pintu shoji dan lengkap dengan taman zen yang memiliki sumber air alami.

Perasaan tertekan itu begitu menghimpitnya. Apakah ini yang dirasakan Hinata setiap harinya? Tertekan, dan terintimidasi oleh darah yang mengalir di tubuhnya.

Hinata hanya boneka untuk klannya. Dia ditekan hingga memenuhi semua standar untuk menjadi pewaris. Dia diberi contoh dan acuan untuk menunjukkan siapa dirinya. Kasian sekali. Perempuan itu tidak boleh menjadi dirinya sendiri.

Dalam perjalanannya di atas lantai kayu menuju selasar utama, dia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Membayangkan bagaimana mereka menciptakan seorang pewaris yang pandai alat musik, pandai olah raga, pandai bersopan-santun, pandai dalam bidang akademik. Dan juga pandai menyematkan topeng. Imbuh Sasuke dalam hati.

Hinata tidak punya teman. Maksudnya benar-benar teman sejati. Dia hanya punya dirinya sendiri untuk bertahan di gelapnya dunia yang ia miliki.

Ketika anak seusianya sibuk berkenalan dengan lawan jenis, Hinata diajarkan untuk tahan segala rasa sakit berupa penolakan ayahnya, dan juga strategi bisnis utama klan Hyuuga.

Dia dipisahkan dari ibunya.

Dia dilarang jatuh cinta.

Dia dilarang untuk mencintai.

Dia dilarang untuk bahagia.

Ketika umurnya tujuh belas tahun, dia menyerahkan harta berharganya pada sang sepupu yang dicintai dan dianggapnya punya kans untuk menjadi suaminya, justru dia dihadapkan dengan kenyataan konyol.

Dia sudah dijodohkan.

Dia akan menjadi pionir sejarah atas pernikahan mega klan. Uchiha dan Hyuuga.

Karena itulah perempuan itu benci setengah mati pada semua Uchiha. Terutama Uchiha Sasuke si keparat.

Hinata punya pemikiran yang benar-benar lihai. Ketika ia melihat peluang untuk menikahi Itachi maka ia menutup kemungkinan itu dengan menjerumuskan Ino menjadi kekasih Uchiha utama itu.

Dia takkan bisa mengatasi Itachi. Terlalu muluk jika ia bisa menjadi orang merdeka dan memiliki kebebasannya sendiri. Dia butuh seseorang yang bisa melanggar semua aturan.

Dan jelas itu Sasuke.

Kenyataan Sasukelah yang bisa menolongnya justru mengoyak egonya.

Tapi rasanya dia lega.

Meski Sasuke adalah musuhnya, tapi Hinata kenal siapa Sasuke. Bukan pria asing bernama Itachi yang merupakan prodigy Uchiha. Bukan lelaki boneka seperti nasibnya.

Sasuke dipersilakan duduk di ruang istirahat, menunggu.

Matanya berkeliaran menatap setiap benda di ruangan itu. Ada lukisan ikan koi dan juga bunga lotus. Dan sebuah potret besar keluarga souke Hyuuga. Seorang perempuan anggun, ayah yang terlihat dingin berkharisma, anak gadis berseragam SMP yang ia kenali sebagai musuhnya dan seorang gadis kecil dengan seragam SD yang tampak identik dengan Hinata. Namun ada dua hal berbeda dari Hinata sekarang dan Hinata yang ada di foto itu.

Tak ada rona merah. Hanya mata yang menyiratkan kebencian.

Oh tentu saja.

Sasuke masih ingat dengan jelas apa yang terjadi di kala SMP.

Kegilaan ini dimulai. Itachi dijodohkan dengan Hinata. Dan Hinata dengan lihai mengumpankan sahabat sekaligus gebetan Sasuke, Ino Yamanaka ke Itachi.

Dan dimulainya perpisahan Hinata dengan sang pelindung, Neji Hyuuga.

Siapa yang patut di salahkan, oh tentu saja keluarga Uchiha yang justru menyambut antusias perjodohan multy culture itu.

Suara derak kayu dan gesekan kain membuat bahu Sasuke menegang. Sesaat setelah Sasuke duduk dengan sikap sempurna, pintu shoji terbuka.

Hyuuga Hiashi sang agung tiba, lengkap dengan hakama hitamnya yang polos dan sederhana namun tampak mahal. Pria tua itu tampak begitu berwibawa dan membuat orang selalu didera rasa segan kepadanya.

Pria itu duduk dihadapan Sasuke. Membiarkan Sasuke menundukkan kepala hormat sebentar lalu menatap muka sang agung dengan pandangan datar.

Pria itu mengerjapkan mata sebentar, lalu memamerkan senyum palsu yang membuat Sasuke teringat akan Hinata. Oh tentu saja karena mereka keluarga.

"Aku tidak tahu mengapa Hinata memilihmu."

Sasuke mengepalkan tangan di pangkuannya. Anehnya dia bisa merasakan aura penolakan orang tua Hinata. Tapi ia tak ingin terpancing. Jadi dia memasang wajah datarnya sebisa mungkin. Lalu menyahut dengan intonasi normal,

"Kadang, kita bisa menekan ego kita sampai ke titik nol. Hanya untuk mendapatkan kembali prestisi yang lebih besar. Saya yakin, Hinata telah melampaui hal ini." Jawab Sasuke tenang ada senyum yang begitu tipis menyungging dingin di wajah tampannya.

Hiashi tersenyum jumawa, "Dengan menghilangkan kesempatan menjadi pertama dan memilih pilihan kedua."

Ah-