WEDDING HELL

Bab 16 Lucifer (III)

Bab 16 Lucifer (III)

.

Hinata merapatkan lagi scraf yang melingkar modis di lehernya. Ia memasang senyum manisnya ke arah teman lama yang selalu membantunya. Teman yang ia sembunyikan di dunia nyata, tapi selalu beredar di dunia maya.

"Dia melukaimu." Nada dingin Gaara mengunci semua pergerakan Hinata.

"Tidak." Tukas Hinata, perempuan itu memilih menikmati moccachino yang kini masih mengepul di atas meja.

Gaara mendengus, matanya masih memindai keseluruhan atribut Hinata. Scraf di lehernya adalah tanda bahwa wanita itu pasti diperlalukan buruk. Ia hapal style Hinata. Kesederhanaan itu telah hilang, diganti dengan segala tetek-bengek kepalsuan. Tidak ada orang yang begitu bodoh menggunakan scraf di musim panas. Terlebih menggunakan long overcoat seolah musim dingin sudah datang.

Ah, bahkan Gaara sempat melihat bekas keunguan itu di leher wanita itu. Dan dengan kegusaran yang tak dapat dikendalikan ia menarik tangan Hinata yang dihadiahi ringisan kesakitan.

Gaara merasa dadanya nyaris meledak oleh amarah. Ia mengatupkan rahang, seolah ingin menggigit hingga hancur tulang belulang Sasuke. Ia memiliki masalah dengan emosi, tapi ia selalu berhasil mengendalikan diri selama bertahun-tahun.

Lelaki itu berusaha menahan gemelutuk giginya, rahangnya mengeras. Dengan perlahan ia menyingkap lengan overcoat itu dan menemukan bekas jeratan di pergelangan tangan cantiknya.

"Kau bilang baik-baik saja?!" Gaara mendengus. Ada rasa sakit yang kentara yang seolah ditahannya. Emosi tergambar di mata jamrudnya. "Kau berani berbohong." suara dingin lelaki itu membuat Hinata terkesiap.

"Aku baik-baik saja." Hinata melepaskan tangan Gaara dan memilih meraih gelas kartonnya. Berusaha tidak menampilkan emosinya sama sekali.

"Harusnya kau menikahiku saja. Tak ada yang menjagamu sebaik aku." Gaara menggeram frustasi.

"Aku takkan membiarkanmu mati bersamaku."

"Demi Tuhan, Hinata aku mencintaimu! Jika kau tak mau memilihku karena kelamnya diriku, maka kau seharusnya memilih Itachi dan bahagia bersamanya!"

Hinata menggigit bibirnya, aku mencintainya. Hinata ingin mengatakan hal itu sebagai pembelaan terhadap Sasuke. Tapi bayangan akan tamparan Sasuke membekukan lidahnya.

"Aku memang seorang pembunuh, tapi aku menyingkirkan banyak orang untuk melindungimu." Mata Gaara berkilat tajam.

"Jangan lukai dia!"

"Dia melukaimu, dan aku bisa membunuhnya dengan tanganku sendiri."

"Tidak, dia melakukannya tanpa kesadaran. Dia marah, dia mabuk. Dan dia cemburu!"

"Itu bukan alasan!" Gaara berteriak murka, "Aku setiap hari dihadapkan dengan obat anti depresan, aku yang memiliki masalah pengendalian emosi masih bisa berpikir waras untuk tidak melukai orang yang kusayangi. Tapi dia," Suara Gaara tercekat karena gelegak amarah yang tak bisa dipahaminya, "Yang kau pilih dan kau cintai yang katanya mencintaimu semenjak dulu, berani melukaimu?!" ada nada mengejek akan kenyataan yang terpapar.