WEDDING HELL

Bab 18 Gravity (2)

Bab 18 Gravity (2)

Hinata tidak pernah merasa kalah. Ia terbiasa menang dalam segala hal. Ia berhasil mempertahankan harga dirinya untuk tidak jatuh. Semua inderanya tajam dan peka, prediksinya tak pernah meleset, pun begitu dengan pemikirannya tentang Sasuke.

Mereka memiliki tempat yang benar-benar absurd. Saling menjaga posisi tertinggi untuk masing-masing pihak. Hinata adalah istri paling ideal Sasuke dan bagi Hinata tidak ada suami yang diinginkannya selain Sasuke.

Tidak ada celah untuk yang lain, seharusnya.

Seharusnya.

Tapi, semua prediksinya meleset. Ia melihat apa yang ditunjukkan Gaara itu benar adanya, lewat kedua retinanya sendiri.

Sasuke tidak pernah memberinya tatapan penuh simpati dan juga penyesalan seperti itu. Pun bahkan setelah menghajarnya, merenggut kemerdekaannya. Ia tak pernah ada kata atau Sasuke yang menatapnya lembut. Yang ada malah seringai kemenangan karena berhasil saling menjatuhkan.

Hinata tertawa miris. Pernikahan macam apa yang mereka jalani sekarang? Sekedar saling memberikan status tanpa cinta. Mereka membangun istana megah bernama prestise dan harga diri, mereka mengukuhkan diri sebagai raja dan ratu di atas kekosongan jiwa mereka sendiri.

Sasuke takkan mau bersusah payah menggendongnya seperti itu. Dia lebih suka melihat Hinata merangkak dan melihatnya kesakitan.

Hinata tahu kalau temboknya runtuh. Bahkan ini adalah ombak pertamanya, tapi lihatlah begini saja ia sudah tumbang. Kemana perginya kepercayaan diri tingkat dewi. Atau sikap anggun ala bangsawan. Di mana mereka akan tersenyum bahkan ketika suami mereka main serong di depan mata.

Gaara meletakkan gelas kertas berisi teh hangat ke depan Hinata. Mengejeknya dengan halus, "Kau bisa terus melihat sambil minum teh, sayang."

Hinata meneguk tehnya sembarangan. Goyah akan penglihatannya sendiri.

Ada anak kecil yang keluar—koreksi, jelas-jelas anak itu dikeluarkan paksa, anak lelaki itu memakai topeng gundam bersender di dinding samping pintu. Bahu kecilnya merosot. Lalu anak itu duduk di lantai.

Hinata merasa matanya memanas, tapi enggan menangis untuk itu.

"Itu anak mereka." Jelas Gaara tanpa diminta. "Yugao ingin mengaborsinya sebelum kecelakaan merenggut kakinya." Ada nada benci dalam suara Gaara yang begitu kentara.

"Bodohnya, yang menabraknya adalah si bodoh Kankurou. Dan jatuh cinta pada jalang itu." Suaranya begitu serak. "Anak itu lahir, dan Kanky menganggapnya anak sendiri, sebelum kebakaran merenggut nyawanya. Ia menyelamatkan anak itu dan juga Yugao, ia mencintai darah daging orang lain dan mati karenanya. Tapi jalang itu malah menolak anaknya begitu mengetaui Kanky mati. Anak itu mengalami luka bakar di wajahnya. Ia juga terluka Hinata, tapi sang ibu menolaknya demi Sasuke Uchiha. Dan lihatlah, keputusanmu menerima iblis itu mengakibatkan ia ditelantarkan dan juga dibuang ke panti asuhan."

Hinata tak bisa menahan air mata yang bergulir di pipinya. "Panti asuhan??"

Gaara menatap anak itu dengan raut kesedihan, "Konan, dia yang merawatnya."