WEDDING HELL

Bab 20 Stronger (1)

Bab 20 Stronger (1)

.

Sasuke memprediksi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Wanitanya itu akan kembali memberondongnya dengan banyak makian atau perang sindiran ketika pagi menjelang. Dan menyelesaikan masalah itu segera. Ia tahu Hinata bukan tipe yang menumpuk masalah. Tapi mungkin ia lupa, bahwa kemarin istrinya telah meminta cerai.

Ia lebih suka kupingnya dijejali sarapan omelan ketimbang keheningan mencekam. Nyatanya, segala angan kosong itu justru mencekiknya pelan-pelan. Merayap bagai ular kobra, dan mematuk hatinya sampai membiru. Tinggal tunggu waktu racunnya bereaksi dan mengirimnya ke alam baka.

Ia mengerjap dan menyadari bahwa telah tertidur di sofa setelah pertengkaran terakhirnya. Kemudian bangun dengan kepala yang terasa berputar. Lalu mendapati lantainya lengket dengan sisa minuman yang tumpah atau mungkin beling yang berserakan karena ia mengamuk.

.

Semesta memang mengujinya sejauh ini. Jadi ia bertekad untuk setidaknya mengurangi dampak yang ditimbulkan prahara rumah tangganya. Langkah kakinya mengayun ke lantai atas. Di mana kamar utama mereka berada. Tapi langkahnya berhenti di depan pintu yang jelas-jelas terbuka.

Tak ada istrinya di sana, kenyataan pahit pertama yang harus ditelannya pagi ini. Alarm peringatan berdering di kepalanya, ia dengan langkah lebar segera membuka walk in closet milik istrinya. Cukup lega karena sepertinya pakaiannya masih utuh. Tapi matanya mengerjap shock, saat mengetahui jika di atas nakas ada cincin kawin yang pernah digunakannya untuk melamar Hinata.

Cincin dengan batu opal itu seolah sudah kehilangan cahayanya. Karena hanya teronggok sepi tanpa jari lentik yang memakainya. Terbuang, diantara semua kemewahan kamarnya sendiri.

Lalu apa arti semuanya jika ia pun harus melepaskan Hinata?

Ia telah berjuang menyingkirkan Itachi dan juga Neji. Menjadi bajingan adalah kesehariannya, tapi tak ada dalam benaknya untuk bercerai dari Hinata.

Ia selalu memimpikan bahwa ia akan memiliki kehidupan yang sempurna bersama sang istri, dan memiliki anak bersamanya. Ia akan membahagiakan Hinata, ia akan menjadi ayah yang baik untuk anaknya kelak. Suara tawa anak-anak menggema dalam imajinya. Berlarian dengan Hinata yang tersenyum ke arahnya.

Tapi kini, impian itu bahkan layu sebelum berkembang.

Lihatlah, bung! Ia hanya menjadi pecundang karena menyelingkuhi istrinya. Memberikan seorang anak haram. Dan kini bersiap menghadapi kehancurannya.

Tapi bukan Sasuke namanya jika ia tak berjuang untuk Hinata. Ia telah menjadi iblis demi orang yang ia puja. Dan pantang baginya untuk menyerah dan membiarkan Hinata lepas dari genggamnya.

Sasuke menarik napas. Membulatkan tekad, mengumpulkan serpihan asa yang tersisa. Kini sudah saatnya ia bergerak, mencari keberadaan Hinata adalah yang utama.