WEDDING HELL

Bab 23 Titanium (1)

Bab 23 Titanium (1)

.

.

Sasuke berhenti di ambang pintu, ia yakin betul bahwa ia sedang tidak berhalusinasi. Ada sepatu kesayangan istrinya di samping undakan—sepatu hak tinggi dengan sol merah menyala yang harganya juga bisa membuat menutup mata. Hingga membuat sandal rumah—yang berwarna putih dengan alas yang lembut—milik Hinata sudah menghilang dari rak.

.

Rumah mereka memang menggunakan lantai kayu, persis permintaan sang istri di bulan pertama pernikahan mereka yang membuat Sasuke segera merombak lantai marmernya.

.

Terjaga dari lamunan, Sasuke menaruh sepatunya di samping milik si nyonya. Langkah kaki Sasuke mengayun, menuju tempat sakral istrinya, balkon yang menghadap sungai Arakawa.

.

Di sana, istrinya duduk di atas bean bag—atau Sasuke menyebutnya sebagai gumpalan nyaman untuk duduk, Hinata tampak cozy dengan secangkir americano yang terlihat masih mengeluarkan uap. Sasuke merasa dadanya berdesir. Desir yang anehnya terasa menyedihkan di dadadanya. Jika ia bukan lelaki sejati, ia pasti sudah menitikkan air mata karena kini ia dapat melihat rambut halus istrinya berterbangan tertiup angin.

.

Istrinya yang masih berniat berpisah. Dan memilih menyerah karena keadaan yang tak pernah tepat untuk mereka.

.

Mengabaikan perasaannya Sasuke memutuskan untuk bergabung ke beranda. Meski nanti ia akan ditolak lagi, ia tak peduli. Penting baginya untuk bicara, syukur-syukur jika ia bisa meyakinkan istrinya untuk kembali.

.

***p90***

.

.

Hinata bukan tak menyadari, bahwa suaminya kini duduk di sampingnya. Tapi perempuan itu lebih memilih menikmati matahari yang turun perlahan dari langit. Ini masih terlalu siang untuk menikmati senja, tapi Hinata lebih suka menikmati senja lebih awal. Meski sinarnya masih terlalu kuat untuk netranya sendiri.

.

"Aku lega kau pulang."

.

Perkataan jujur itu hanya dihadiahi dengusan pelan. "Lega karena aku tak bertindak nekat dan mencoreng nama baikmu?" nada sarkastik Hinata menguar di udara.