WEDDING HELL

Bab 24 Titanium (2)

Bab 24 Titanium (2)

Bagian mana yang bodoh di mata mereka? Kalau Hinata bisa mengendalikan hal buruk menjadi keuntungan di pihaknya. Oh, mungkin ia harus berterimakasih pada sang bibi, Lady M pantas mendapat satu set tas Birkin terbaru.

.

Hinata nyaris menghubungi sang bibi ketika mata cantiknya melihat dengan jelas anaknya didorong oleh anak lain di area bermain.

.

Hinata menyipitkan mata, lalu dengan segera berjalan cepat dan membantu anaknya berdiri.

"Kau baik-baik saja?" Tanyanya cemas.

Anak itu diam, menunduk dalam-dalam dengan siku dan dengkul yang terluka. Hinata menyipit geram, langsung menoleh ke arah si anak gendut yang tertawa-tawa mengejek.

.

Ada senyum miring Hinata yang tampak menakutkan di mata anak gendut itu, "Panggil ibumu sekarang atau mereka membawamu!" Ucapan dingin Hinata membuat si gendut melihat dengan horror kepada pengawal pribadi Hinata yang baru, lelaki berdarah Rusia berambut klimis keperakan, Hidan tampak sigap mengganyang tubuhnya.

Si gendut lari. Entah memanggil ibunya atau bagaimana.

.

Lalu tatapannya beralih ke anak lelaki kurus yang ia sebut sebagai anak. Hinata merasa dadanya perih. Kenangan lama berkelebatan di kepalanya. Bagaimana cara Hanabi memperlakukannya, bagaimana ayahnya sendiri yang sengaja mengabaikannya. Dan ia tak punya seorangpun untuk sandaran. Neji adalah bagian yang berbeda. Dia memang ditugaskan untuk melindungi Hinata, bukan kemauannya sendiri bergerak atas dasar nurani. Jadi apakah ia harus berperan sebagai ibu tiri jahat yang sengaja menelantarkan anak tirinya?

.

Oh, bukan salahnya jika ia dijuluki Kaguya. Ia tak akan tunduk pada siapapun di dunia ini. Ia adalah kebebasan, maka dari itu ia yang memutuskan apakah akan bertahan atau pergi.

Ia mengangkat dagu anaknya dengan ujung telunjuk lentiknya yang kukunya terpulas warna merah menyala, "Angkat dagumu." Kalimatnya tenang dan juga tak bisa dibantah. Perintah mutlak untuk siapapun yang mendengarnya

.

Obito tampak ragu mengangkat wajahnya. Ada gurat ketakutan di matanya, bahunya bergetar. Ia takut mamanya akan memarahinya karena ia lemah dan bodoh.

.

Hinata memilih tersenyum lembut untuk menenangkan. Ia menunduk untuk menepuk pelan kepala Obito dengan sayang. "Jangan tundukkan pandanganmu kepada siapapun mulai sekarang. Kau adalah putraku. Tidak ada yang boleh berlaku kasar dan menghinamu. Kau paham?"

.

"I-iya." Ujarnya sambil mendongak. Hatinya mengembang melihat senyum Hinata. Lebih dari itu, orang yang ia sebut sebagai ibu angkat itu terlihat begitu keren di matanya.

Hinata berdiri dengan tegak dengan tingkah elegannya. Ia memakai kembali kaca mata raybannya. Pandangannya ke arah dua orang manusia yang kini mendekat kepadanya. Dengan gerakan luwes ia melepas kembali kacamatanya, ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia kuat, tak takut pada malaikat maut sekalipun.

.

"Panggil aku mama." Ucap Hinata tanpa melihat Obito. Mata cantiknya berkilat senang ketika si gendut membawa pula ibunya yang tampak sadis. Hinata terkekeh saat bayangan Prof Umbridge si kepala sekolah pengganti Dumbledore di Harry Potter tampak nyata di hadapannya. Tambun, menor dan tampak tidak menyenangkan.

.

Oh, kasihan sekali nasib ibu si gendut itu, karena Hinata takkan segan menghabisi musuhnya dengan cara yang tak bisa dipikirkan oleh akal logika. Menjatuhkan harga diri orang itu dengan membuatnya terbang dulu.

.

Hidan menatap mainan baru sang Kaguya dengan tatapan prihatin. Tahu betul jika nyonya mudanya luar biasa sadis jika diperlukan.

.

Hinata tersenyum penuh kesopanan "Anda ibu dari anak ini?" Tanyanya halus.

.

"Kalau iya memangnya kenapa?!" tantangnya dengan mata yang sialan meremehkan.