WEDDING HELL

25. Titanium (3)

Bab 25 Titanium (3)

.

"Kau harusnya tidak melakukan hal itu Hinata." Sasuke menatap tajam pada istrinya yang justru dibalas tatapan tanpa dosa. Perempuan itu memilih untuk mengabaikan segala perkataan Sasuke.

"Memangnya kenapa?"

"Pamer, uh— sama sekali bukan kau. Untuk apa kau memepermalukan mereka sedemikian rupa. Buang-buang waktu!"

.

Hinata tak bisa menahan dengusan kesalnya, "Bagimu ini tak perlu. Tapi bagiku itu penting. Karena apa yang berlabel milikku bukan hal yang bisa diremehkan. Mungkin ia hanya aib bagimu, tapi Tobi adalah ahli warisku Sasuke. Dan bagiku menghina dia sama dengan menghinaku."

.

"Tobi juga Uchiha kalau kau lupa, dia tidak perlu kau lindungi!" Sasuke gusar dengan kenyataan bahwa istrinya lebih mementingkan si anak haram ketimbang imej keluarga mereka.

.

"Ah—" Hinata tertawa kering, "Sejak kapan ia bagian dari Uchiha? Mengakui kesalahanpun kau tak mampu, apalagi menerima dengan lapang dada hasil kebodohanmu."

.

Sasuke kehilangan kata-kata. Memilih bungkam dan mengetatkan rahang. Ia ingin mengunyah sesuatu sekarang, karena saking marahnya. Jadi yang ia lakukan sekarang hanya bisa mengurut pelipisnya yang berdenyut-denyut.

.

"Kembali ke meja makan sekarang, aku tidak suka Tobi menyalahkan dirinya sendiri."

.

"Kenapa?! Kenapa kita harus peduli padanya! Kenapa, kenapa—kau—harus peduli padanya." Sasuke memberi jeda pada sebutan kau, kepada Hinata. Tangannya tanpa sadar menunjuk dada Hinata.

.

Ia geram, benar-benar tak habis pikir. Ia sudah cukup tersiksa mendengar ocehan orang-orang di luar sana yang menyalahkan ia sebagai lelaki kufur nikmat yang menyelingkuhi istrinya. Dan makin geram saat keluarganya menjuluki Hinata gila dan permpuan lemah yang bodoh. Ia tak suka seorangpun memanggil Hinata dengan sebutan tak hormat dan melecehkan namanya sebagai candaan.

.