WEDDING HELL

28. Just like old times (3)

Bab 28 Just Like Old Times (3)

Kabar Megumi yang terluka membuat Hiashi kalang kabut dan membuatnya ke kediaman Sabaku. Tentu saja alibi membawa Hinata terasa sempurna guna menutupi kegilaannya.

Ia tak mungkin pergi keluar tanpa dicurigai mertuanya jika membawa Hinata bersamanya. Lagipula, toh Hikari tak bakalan mengerti. Perempuan bodoh itu akan membelanya di depan sang ayah.

Demi mencegah Hinata yang tahu apa yang dilakukannya, Hiashi dengan tega menaruh Hibata di gudang, dengan daluh segera kembali.

"Hai..."

Gaara kecil beringsut, ia makin menjauhi pintu dan bersembunyi pada sudut gelap gudang rumahnya.

"Apa kau baik-baik saja?" Gadis kecil itu makin mendekat, dan Gaara tertegun. Katika semua orang mengabaikannya karena dia nakal, justru anak kecil lain yang memperhatikannya.

"Lenganmu berdarah." Manik pucat seperti bulan itu mengamati tangan Gaara. "Bibirmu juga." Katanya.

Gaara menelan ludah, terlalu takut jika ini hanya mimpi. Tapi ia hanya bisa memandang takjub pada seorang gadis kecil dengan jaket ungu yang terlihat begitu imut dan juga berani.

"Aku punya plester, sini kuobati." Katanya sambil menarik Gaara dari kegelapan.

Gaara diam dan melihat sesuatu yang bercahaya dari Hinata. Kerinduannya akan kehangatan kasih sayang yang dulu sempat hilang kini tiba-tiba justru terlempar begitu saja. Seolah langit memang sengaja memberinya kesempatan untuk melihat Karura dari diri Hinata.

Gaara kecil tak bisa berpaling.

"Cita-citaku menjadi dokter, supaya ibu cepat sembuh." Hinata mengeluarkan sapu tangan dan mengusap pipi dan juga lengan Gaara sebelum menempelkan plester dengan gambar pokemon.

Setelah itu, si gadis tersenyum. Tangannya kemudian menuju ke kepalanya, lalu merapikan rambutnya yang berantakan dengan tangannya yang halus.

Seluruh perhatian tulus itu, terekam dengan baik diingatannya.

Gaara mengernyit, "Kenapa kau ada di sini?" ia berbicara sambil melihat mata rembulan milik gadis kecil di hadapannya, suara pertamanya setelah kebisuan.

Hinata kecil melihat Gaara dengan pandangan bingung, "Ayahku menemui seseorang, tapi aku tidak boleh ikut ke dalam. Aku merengek, tapi Ayah justru memasukkanku ke sini. Ini semua salahku." Ia berkata dengan melihat mata Gaara yang berwarna hijau.

"Bodoh!"

"Apa?" Hinata menampilkan wajah bingung.

"Ayahmu berselingkuh."

"Apa itu berselingkuh?" Hinata bertanya dengan mata bulatnya.

Gaara mati kutu. Ia sendiri tak tahu apa yang dimaksud selingkuh. Hanya saja para pembantunya berkata demikian ketika ayahnya diam-diam membawa sekertarisnya ke kamar. Atau menyuruh Gaara cepat pergi jika sedang tidak sengaja melihat ayahnya mencium dan meremas perempuan itu di ruang kerja.