WEDDING HELL

29. Alea jacta est

Bab 29 Alea Jacta Est

Ada suatu titik di mana kita akan menyerah untuk mempercayai sesuatu. Bukan karena kita tidak bisa percaya tapi lebih kepada melindungi keyakinan kita agar bisa terus waras di antara semua kegilaan yang ada.

Pun juga dengan Hinata, ia tak mampu lagi bisa percaya bahwa Sasuke bisa membahagiakannya. Tapi ia justru tak bisa mempercayai dirinya sendiri ketika dengan sadar membiarkan Gaara menciumnya. Demi Tuhan, ia sudah tak ingin lagi menambah dosa dengan menjerumuskan lelaki itu. Tapi kenyataannya tak pernah bisa sejalan.

Gila, sekaligus ketololan terparah dalam hidupnya.

Wajar bila Sasuke langsung menggeretnya pergi dari kediaman Hyuuga, yang membuat kedua anak pamannya; Nagato dan Yahiko terbengong saat lelaki itu langsung menggandeng Tobi dan memaksa anak itu masuk ke dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman sekalian.

Tapi kombinasi Tobi dan Sasuke adalah kemustahilan yang bisa diterima akal logika. Sasuke takkan mau berinteraksi dengan Tobi, tapi demi harga dirinya sebagai suami Hinata ia mau-mau saja menaruh Tobi dalam satu mobil dengannya.

Lelaki itu masih tanpa kata, wajahnya kaku dengan rahang yang mengatup rapat. Tangannya lincah menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan segala tetek bengek sialan tentang rapat apalah yang membuat istrinya terpojok. Sekaligus menghapus segala ingatan tentang istrinya yang dicium Gaara.

What the hell, berani benar lelaki berambut merah itu mencium bibir istrinya. Bibir yang ia sudah labeli dengan namanya. Bibir yang harusnya hanya ia saja yang mengecupnya.

Bajingan Sabaku sialan!

Bedebah yang harusnya kepalanya Sasuke remukkan, agar warna merah rambutnya bisa semakin pekat.

Sasuke takkan peduli apapun asalkan bisa membuat Hinata tetap di sisinya. Ia tak mungkin melepaskan sang wanita dengan alasan apapun itu. Bila mungkin ia juga bisa menggunakan Tobi untuk mengikat Hinata agar tetap dalam mahligai pernikahan yang kini sudah remuk. Terkesan gila? Bukankah akan lebih gila dia harus bercerai dan merelakan segalanya kembali ke titik nol?

Ia belum edan untuk melepaskan saham perusahaan Uchiha dan lebih tidak mungkin jika harus kalah dari Sabaku sialan itu. Ia masih mencari celah untuk menghancurkan Gaara tapi belum apa-apa saja lelaki itu justru menggempur lagi.

Bangsat!

Sabaku itu luar biasa agresif sekali gerakannya.

Dirinya seorang predator tapi Gaara adalah monster. Ia bahkan bisa melihat raut kesenangannya dalam menghabisi lawannya. Seorang monster sejati akan mencabik-cabik buruannya hingga tewas perlahan, namun sengaja untuk melihat buruannya memperlihatkan tatapan putus asa. Dan sialnya, Sasuke berurusan dengan orang semacam itu.

***p90***

.

.

Hinata sudah hapal di luar kepala soal kegilaan Sasuke yang menyetir ugal-ugalan jika sedang marah. Tapi dengan membawa Tobi turut serta dalam mobil bukanlah sesuatu yamg dapat Hinata maklumi.

"Pelankan Sasuke."

"Kau tak berhak memerintahku!" Ketus Sasuke.

"Tobi takut. Dan aku takkan membiarkanmu melukainya."

"Kalau tidak lupa, Obitolah yang anak kandungku. Jangan bicara seolah-olah kau mengenalnya."

Mata Hinata terpejam sebentar mengeliminasi segala kemarahan yang memuncak. Tapi demi Tobi, ia rela menahan sedikit egonya untuk tidak menimpali kalimat Sasuke yang menyakitkan hati. Ia tak ingin menjadi seperti ibu yang tak becus mengurus rumah tangga, meski kenyataannya bahkan lebih buruk. Diselingkuhi lalu sekarang malah terlihat putus asa dan memutuskan berselingkuh. Sial. Hinata lupa kalau mata awam akan melihatnya begitu.

Hinata sadar bahwa wanita dewasa akan menghindari drama. Mereka kuat untuk bahagia sendiri ketika para suami tak bisa memenuhi ekspektasi.