WEDDING HELL

30. Between Creep and Monster

Bab 30 Between Creep And Monster

I want you to notice

When I not around

You’re so fucking special

I wish I was special

But I’m creep, I am a weirdo

(*Creep/RADIOHEAD)

***P90***

“Kau mabuk. Pergilah!” Gaara menatap dingin tunangannya yang berdiri di depan apartemennya. Mengabaikan kemungkinan bahwa Hanabi telah berada di sana beberapa jam, di tengah udara dingin musim gugur. Ia tak peduli. Toh selama ini memang ia tak pernah benar-benar mengizinkan Hanabi untuk masuk.

“Kenapa? Kenapa kau sekali saja tidak pernah melihatku?” Meski wanita itu tidak tegak berdiri tapi ia masih terlalu sadar dan menuntut penjelasan tunangannya kenapa dengan teganya membatalkan pernikahan, bahkan tepat saat insiden Okinawa.

Gaara terkekeh, “karena kau bukan Hinata.” Ucapnya ringan seolah tak ada rasa bersalah ketika mengucapkannya, meski Hanabi jelas meradang.

“Hinata, Hinata, Hinata!” dengus Hanabi, “aku muak!” Meski nada suaranya penuh kemarahan, tapi justru air mata meluncur turun dari pipi tirus anak kedua Hiashi Hyuuga itu.

“Kau yang lebih memuakkan.” Mata Gaara berkilat dingin, “peduli setan kau cinta aku atau tidak. Toh lebih baik kau mati saja. Anak seperti kau, yang berlindung di ketiak ibumu tidak akan pernah mengerti kenyataan yang kejam.”

Hanabi menatap tak percaya wajah Gaara. Kemana perginya si tampan yang baik hati itu? Kenapa yang dihadapannya adalah lelaki mengerikan yang seolah datang sengaja untuk menghabisinya?

“Coba bayangkan, ibumu menikah di bulan januari tapi kau lahir di bulan tiga. Apa kau pernah berpikir anak siapakah dirimu? Kau adalah kelahiran yang membunuh. Karena itu Hinata sejuta kali lebih baik daripadamu. Mati sajalah kau!” desisan Gaara lebih beku dari angin musim dingin di artik. Lelaki itu bahkan menampilkan seringai jahat yang melukiskan rasa puas karena merobek kepercayaan Hanabi.

Kehilangan kata-kata, Hanabi hanya bisa menatap Gaara dengan kilat kemarahan dan putus asa, “kau tak ubahnya seperti punguk yang merindukan rembulan. Karena Hinata tidak akan pernah memilihmu. Seseorang yang bergantung dengan obat penenang adalah orang gila yang kerdil.”

“Lalu kau sebut apa ibumu yang tidur dengan ayahku, eh?” desis Gaara dingin, “pelacur, atau pembunuh? Karena berhasil membuat ibuku bunuh diri. Apakah kau pernah berpikir, kenapa ayahku melihatmu dengan tatapan sayang? Karena ia berpikir, mungkin kau anaknya. Bagaimana rasanya tidur dengan kakakmu sendiri Hanabi? Kau menyukainya? Keh, dasar jalang!” Ucap Gaara dingin, mata hijaunya tampak berkilat senang, senyum culas hadir dari bibir tipisnya. Kebahagiaan karena memukul telak benteng terakhir Hanabi.

“Itu tidak benar!”

Suara tawa Gaara adalah lonceng kematian untuk Hanabi. “Katamu kau lebih cerdik dari kakakmu? Katamu kau lebih pintar dan canggih. Masa hal seperti ini luput dari penglihatanmu?” cemo’oh lelaki itu. “Gunakan saja kuasamu, apakah ayahku pernah melakukan tes DNA kepadamu saat kau lahir di RS milik Haruno. Atau—“ Gaara menahan kata-katanya hanya untuk menikmati ketegangan Hanabi, “bagaimana istri pertama Hiashi meninggal dua puluh tahun yang lalu, bukan dua puluh lima tahun seperti yang diketahui publik. Kau dan ibumu membunuh dua orang wanita dalam dua keluarga. Dan apakah kau masih bangga di atas kebusukan dirimu?”