WEDDING HELL

32. The Scars (2)

Bab 32 The Scars (2)

"Apakah Tou-sama, pernah sekali saja, Hinata menatap tajam-tajam ke arah manik ayahnya, mencintai ibuku?"

Ada sebuah sengatan yang bisa dinikmati Hinata dalam wajah dingin ayahnya. Untuk sejenak, mata Hiashi melebar sebelum mengerjab beberapa kali. Dan Hinata menafsirkan bahwa pertanyaan itu tampak begitu sulit hingga lelaki yang ia panggil sebagai ayah itu kehilangan pegangan.

Mereka justru memilih untuk bungkam, memikirkan langkah defensif apa yang diambil jika pertanyaan itu justru menjadi bumerang. Ada jeda yang tak bisa disangkal sekaligus terasa menyiksa. Hinata diam dan terus mengunci pergerakan ayahnya. Seolah ia telah membidik targetnya. Ia tahu Hiashi takkan mudah menjawab pertanyaan mendasar ini. Ia tahu segala hal yang terjadi di masa lalu. Dan ia yakin ayahnya pasti punya sebuah kelemahan untuk dihancurkan.

"Tidak bisa menjawab, eh?" Hinata menarik ujung bibirnya menjadi tak simetris. Mungkin sebagian orang pasti mengira itu adalah senyuman khasnya, yang terlihat seperti sebuah seringai angkuh para perempuan bangsawan yang melecehkan. Terlihat menghina sekaligus memberikan sebuah kesan sadis. "Jangan menganggap aku masih berusia belasan, Tou-sama." Hinata tak lagi menaruh hormat ketika menyebut suffiks sama yang artinya kurang lebih memuliakan nama di depannya. "Karena aku tahu apa yang kau lakukan di belakangku."

Mata Hiashi menyipit sebentar sebelum memberi putri sulungnya sebuah tatapan sinis. "Buah tidak jatuh dari pohonnya. Kau sama seperti ibumu." ujarnya dingin.

Alih-alih merasa terhina akan pernyataan ayahnya, Hinata justru tergelak sambil menatap ayahnya dengan pandangan mengasihani. Oh kalian tidak keliru ketika membaca kata mengasihani. Karena nyatanya ayahnya terlihat seperti Sasuke Uchiha. Mendamba tapi dicampakkan. Tuhan maha adil.

Hiashi merasa dadanya terkoyak ketika mendengar gema suara tawa anaknya. Sudah sangat lama mereka tak pernah tertawa. Sudah sangat lama putri manjanya mau tertawa di depannya. Dan sengatan kesadaran itu sepertinya menghujam telak segala keangkuhan ayahnya hingga hancur menjadi debu.

Hiashi ingin menangis tapi sebagi seorang pria ia enggan menjadi cengeng dan juga melankolis. Tapi di satu sisi ia menyalahkan Hinata yang telah mencampakkannya, menganggapnya musuh ketika ibunya meninggal dan memilih untuk mengisi peran baru yang diberikan putrinya sebagai musuh abadi yang harus dilampaui dan disingkirkan. Karena ia sadar, ia adalah pengecut yang bersembunyi sebagai topeng monster yang diam-diam bangga karena dikalahkan anaknya sendiri.

Hiashi tersenyum tipis, "Kau tahu jawaban dari pertanyaanmu. Dan kau masih menanyakannya?" ia menatap balik sang putri dengan kabut kesenduan yang tak bisa disibaknya. Kesenduan yang memenuhi udara dan mengakibatkan perasaan sesak itu hadir dalam dadanya.

Hinata tersenyum culas, "Tadinya aku selalu menyalahkanmu atas apapun. Tapi Megumi adalah kebodohan sekaligus senjatamu. Baiklah aku menerima tantanganmu dan maju sebagai seorang kesatria." Hinata memilih menuangkan sake di depannya ke cawan. Lalu meneguknya lebih dulu tanpa mau repot menawari ayahnya.

"Dari semuanya kenapa tak satupun yang kau warisi dariku." Hashi mendesah. Ada gurat sakit hati yang kentara.

'Aku mewarisi ketololanmu.' Hinata menggigit lidahnya agar tak mengatakan kalimat edan itu dan membuat ayahnya menang. Ia memilih untuk mengangkat bibirnya sedikit dan memberikan ayahnya sebuah senyum culas. Bagaimana jika pertanyaannya dibalik, "apakah ibuku mencintaimu Tou sama?"

"Kau bahkan lebih kejam dari dia." Mata Hiashi menatap ke arah putrinya dengan pandangan kesal. Kemudian pria paruh baya itu memilih untuk menunangkan sake ke cawannya sendiri lalau meneguknya sebelum menatap mata anaknya yang kini penuh kilat kemenangan.

.

"Dia hanya peduli kepada dirinya sendiri, kepada egonya dan martabat yang ia pegang hingga kematiannya. Dia tidak mencintaiku Hinata. Dia membenciku karena aku adalah seorang munafik yang bersembunyi atas nama sahabatnya hanya demi menikahinya. Seorang serigala yang menyamar menjadi ayam."

.