WEDDING HELL

Bab 43 Crack (2)

Bab 43 Crack (2)

Hanabi bungkam, tapi perempuan itu tidak mematikan sambungan.

"Tolong jangan matikan telepon ini oke. Aku hanya ingin bilang semuanya akan baik-baik saja. Aku kan menyelamatkanmu. Jangan khawatir, Hinata akan membayarnya!"

"Ibu—" Suara Hanabi terdengar lelah dan juga sarat akan permohonan. "Sudahlah bu, sebaiknya kita berhenti."

"Tidak!" megumi berseru, "Jalang itu harus hancur jika aku hancur. Gara-gara dia Hiashi menceraikanku. Aku mencintai Hiashi, aku mencintai ayahmu dengan hati, tapi demi Hinata lelaki itu mencampakkanku. Dan bahkan mengirimmu ke luar negri!"

Ada helaan napas berat di seberang, "Bu, aku sudah tahu apa yang terjadi. Jangan salahkan orang lain karena kesalahan kita. Aku sudah lelah dan muak. Aku ingin berhenti bersikap seolah-olah kita jadi korban. Hinata jelas tahu apa yang sudah kuhancurkan, dan ia berhak melakukan yang lebih kejam dari ini."

Megumi kehilangan kata-kata.

"Jangan berbohong lagi bu. Sebaiknya kita menjalani kehidupan masing-masing. Aku tidak bisa di dekat ibu jika ibu selalu menganggap semua orang adalah musuh."

"Hana-chan, kau harus dengar. Ibu bersumpah, Hinata tidak akan pernah bahagia. Gara-gara dia kau jadi membenci ibu. Dia boleh menang karena sudah berhasil mendepakku dari Hyuuga, tapi perkara kau harus terasing akan kubuat ia membayarnya. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri jika perlu!" sumpah Megumi, perempuan itu langsung mematikan panggilan demi mengatasi emosinya sendiri.

Matanya menyala-nyala. Segala dendam lama itu berkobar dan membakarnya hidup-hidup. Ya, ia memang harus membunuh copy-an Hikari itu segera. Tapi sebelum itu, tentunya ia harus menghubungi satu orang. Seseorang yang memiliki hutang budi terhadapnya.

Bibirnya tersenyum, ia akan menang. Tangannya mengepal.

***p90***

Di ujung sana, Hanabi mematung. Ia benar-benar merasa takut jika ibunya benar-benar nekat. Ia masih ingat bagaimana ibunya benar-benar membenci Hinata. Ia berusaha menghubungi ayahnya, namun jaringannya masih sibuk, sementara ia cemas bukan main.