WEDDING HELL

Bab 47 Wind (1)

Bab 47 Wind (1)

Setelah badai selalu ada pelangi, begitu kata pepatah yang nyatanya mereka lupa, bahwa setelah badai seselai yang terjadi adalah kekacauan, chaos, kehampaan total yang memporak-porandakan segala kehidupan Hinata.

Lihatlah betapa rapuh dan keras kepalanya Hinata yang masih enggan beranjak dari depan ruang isolasi Gaara. Matanya menyiratkan penderitaan tanpa ujung.

Hiashi bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah selama ini ia salah menduga. Bahwa sebenarnya anak perempuannya mencintai Gaara dan bukan cuma menganggap Gaara sebagai sahabat?!

Hinata mentap Gaara dengan pandangan nelangsa, masih enggan melepaskan asa dan berharap ada keajaiban. Masalahnya, rusaknya paru-paru dan pecahnya pembuluh darah otak bukanlah sesuatu yang bisa disembuhkan. Ia tahu jika tinggal tunggu waktu dokter mengumumkan kematian otak dan memaksa mereka melepaskan semua alat bantu kehidupan.

Tapi Hiashi yakin, jika Gaara dibiarkan mati begitu saja. Maka dua anak perempuannyalah yang mati. Hinata dan perasaan kosongnya, serta Hanabi dan janinnya yang lemah juga berpotensi ikut mangkat.

Sementara itu, mata tua Hiasi menangkap pergerakan Sasuke Uchiha yang masih setia menemani sang istri meski diabaikan dan dianggap alfa kan kehadirannya. Namun begitu lelaki itu berusaha membujuk Hinata untuk beristirahat. Terutama mengingat kehamilan awal Hinata juga rentan akan keguguran.

Rasa sakit yang diderita Hinata bertahun lalu, serupa kanker yang menyebabkan komplikasi. Hiashi tahu, bahwa kesakitan Hinata makin menjadi. Membuat anak perempuan kebanggaannya itu begitu tak berdaya dan hanya bisa melihat dari dinding kaca ruang perawatan Gaara.

Gaara memang agresif jika menyangkut Hinata. Itu sudah dibuktikan bertahun yang lalu. Bahkan ketika kedua anak itu terlalu kecil untuk mengingat. Tapi tampaknya, Hiashi salah menerka dengan menyimpulkan bahwa hanya Gaara yang butuh pertolongan. Karena yang terjadi, anaknya juga butuh pertolongan profesional yang sama besarnya.

Harusnya, ia juga mengetahui kecenderungan Hinata mengidap penyakit itu. Skizofrenia adalah kelainan yang bisa diwariskan. Harusnya ia tak menutup mata dan telinga akan semua rintihan dan ketakutan istrinya bahwa tak hanya kecerdasan dan kemampuan materi saja yang diwariskan para Hyuuga, tapi juga kutukan mereka.

Apakah keputusannya menikahkan Hinata dengan Sasuke adalah racun? Ia tahu benar riwayat Gaara. Bagaimana perjuangan lelaki berambut merah itu mengatasi emosinya, dari yang mulai mengamuk kalau marah, hingga self injuries kalau tanpa sengaja merasa mengabaikan dan diabaikan oleh Hinata.

Hiashi ingin menutup mata, tapi gagal. Karena penderitaan putrinya menular kepadanya. Ia tak lagi memiliki keangkuhan berkata bahwa ia orang tua yang maha benar dan setiap titahnya adalah sabda. Ia telah kehilangan kemampuan untuk menopang. Karena jelas dalam ingatannya, bahwa kepengecutannya adalah awal mula bencana besar ini berasal.

Menatap ke arah anak perempuannya. Ia beranjak, berusaha menggapai asa yang tersisa.

****

.

Hanabi berbaring menyamping sambil menatap ke jendela-memunggungi pintu, seolah menolak siapapun untuk merecoki dunianya. Kenyataanya ia masihlah seorang pengecut yang menutupi kehancurannya. Ia tak ingin seorang pun melihat bagaimana saat ini ia terpuruk. Angannya menerawang, menatap ke satu ruang kosong.

Seharusnya ia merelakan, seperti kata-katanya sendiri dengan Gaara tempo hari, namun nyatanya ia malah seperti ini. Ia belum siap dan tak siap ditinggalkan lelaki itu.