WEDDING HELL

Bab 48 Wind (2)

Bab 48 Wind (2)

"Aku pernah bertanya pertanyaan yang sama ketika aku melihatmu mencium ibunya Tobi. Kenapa kau harus menciumnya jikalau kau tahu kau telah melakukan hal yang tolol bersama selama bertahun lalu hingga hadir Tobi? Apakah aku tak seberharga itu hingga kau melupakan siapa dirimu, seorang suami Hinata Hyuuga yang katamu kau puja setengah mati. Apakah aku tak cukup memuaskanmu hingga kau menidurinya di depan mataku, mencumbunya, memberinya kepuasan dan kau pun mendesah puas karena pelepasanmu. Aku tak menyalahkan dia karena bertindak jalang, tapi aku menyalahkanmu karena kau tak mampu menjaga hatimu, menjaga janjimu sendiri. Kau yang mengingkari janjimu sendiri di hadapan Tuhan, pasti sangat mudah mengingkari janjimu terhadapku."

Sasuke tercekat, ia tak pernah berpikir Hinata serapuh itu. Tak pernah berpikir bahwa istrinya sehancur itu. Karena yang dilihatnya adalah Hinata yang meraung penuh emosi, marah sejadinya hingga berbuah pembalasan yang setimpal untuknya. Membuatnya mengemis permintaan maaf dan kesempatan kedua.

Tapi tak pernah dalam benaknya bahwa Hinata masihlah perempuan rapuh yang bersembunyi di bawah cangkang titaniumnya.

Sasuke metasa jantungnya dicabut; karena menyadari satu hal krusial yang terlewat dari semua kenyataan ini. Bahwa belum sekalipun, ia mampu membahagiakan Hinata.

Hal yang membuat raganya seolah mati, lelaki Uchiha itu limbung ke belakang, seolah disayat jiwanya. Duduk di lantai dengan pandangan kosong menatap Hinatanya yang tampak terluka dan juga menderita.

Sasuke mengusap wajahnya kasar, seolah mencari keberaniannya yang tersisa ingin ia bicara; "kejarlah kebahagiaanmu, jika itu yang kau mau, kau boleh mengajukan perceraian kita."

Namun sayangnya, otak kerdilnya yang penakut memilih bungkam. Tak ingin melepaskan Hinata begitu saja. Tidak ketika hatinya meraung mengatakan cinta. Ketika ia tak bisa hidup dengan kenyataan anaknya bersama Hinata memiliki masa lalu seperti Tobi atau bahkan lebih buruk. Ia tak bisa.

"Jangan jadi jahat." Suara Sasuke terdengar bergetar. "Kumohon."

"Maka akhirilah kejahatanku." Hinata tersenyum sendu. "Bunuhlah aku."

Sesungguhnya yang terbunuh oleh permintaan itu bukanlah Hinata, tapi orang yang kini melihat Hinata dengan tatapan kesedihan tanpa ujung. Yang kini tanpa segan menangis di hadapan istrinya.

.

****

Sasuke tahu kapan ia harus menyerah atau tidak. Tapi ia tidak akan menyerah untuk hal yang ia anggap berharga. Ia mungkin bisa kalah saing dengan Gaara. Tapi sebagai suami, ia masih ingin berjuang demi anak dan istri yang ia miliki.

Hinata boleh menjauh. Tapi ia akan selalu mencoba mendekat. Bila wanita itu memaksanya mundur, maka ia akan merangsek maju. Ia tak bisa selamanya lemah dan membiarkan wanitanya berjuang sendiri. Tidak setelah segala hal yang ia miliki dipertaruhkan. Segalanya yang ia inginkan hanya berada dalam genggaman Hinata, dan ia belum berniat untuk menukarnya dengan apapun.