WEDDING HELL

Bab 50 Hell (2)

Bab 50 Hell (2)

Ditinggalkan oleh ayah dari Gaara itu, membuat Hinata dengan segera berbalik ke ruangan sahabatnya berada. Ia makin cemas, namun sedikit lega karena perlengkapan itu masih terpasang. Gaara masih nyaman dalam tidur panjangnya, ada selang besar yang menembus tenggorokannya. Yang menjaga lelaki terbaik Hinata itu tetap hidup.

Sasuke tampak tergopoh setelah mendapatkan informasi jikalau keluarga Sabaku telah mengizinkan rumah sakit untuk melepas alat bantu kehidupan Gaara. Ia dapat menduga jikalau Hinata akan menggila, tapi melihatnya sendiri membuat dadanya tercabik-cabik.

Para rombongan dokter berdatangan, Hinata tak lagi bisa mengendalikan diri. Perempuan itu menyeruak masuk, berusaha membangunkan Gaara. Sasuke ikut masuk, melemparkan pandangan minta maaf kepada staf medis dengan berusaha menarik mundur istrinya.

"Jangan berani-beraninya kau pergi!" Hinata berdesis di sela isakannya. "Aku belum mengizinkanmu meninggalkanku!" raungannya menggema di ruang itu, matanya menatap Gaara yang tak bergerak seujung jaripun. "Gaara!" Panggilan Hinata, terdengar pilu.

Sasuke, menarik lengan Hinata dan mengurung Hinata dalam dadanya. Meski perempuan itu berontak dan menolak perbuatannya, namun Sasuke lebih memilih Hinata menghancurkannya namun bersedia melepaskan Gaara.

"Berengsek kau Sasuke! Lepaskan aku!"

Sasuke bergeming, enggan membiarkan Hinata terlepas dari dekapannya. Hinata tidak butuh apapun untuk membuatnya kuat. Ia akan menjadi kuat dan melindungi Hinata. Ia tidak apa-apa jika Hinata lebih memilih Gaara. Tidak apa-apa jika Hinata mencintai lelaki yang sudah pergi itu.

Ia akan bertahan. Ia sudah bertekad.

"Biarkan aku berbicara pada Gaara! Minggir kau, Sialan!" Hinata memberontak tapi belitan tangan Sasuke tak mengizinkan ia mendekati tubuh Gaara.

"Berhentilah." Sasuke berkata lirih. Tepat di kuping Hinata. Bibir pria itu mencium sisi kepala istrinya. "Gaara sudah selesai. Kau harusnya bisa melepaskan dia. Jangan bebani dia dengan tangisanmu."

Mata Hinata makin membanjir. Rasanya bernapas menjadi berat dan menyiksa. "Kalau begitu aku akan membebaninya. Agar dia menyesal karena meninggalkanku!" Sahut Hinata cepat.

Pelukan Sasuke kian menguat. "Kau boleh menangis. Aku tidak akan membuka mataku untuk melihatmu menangisinya."

Sasuke menelan ludahnya susah payah. Setelah mengatakannya, ada luka yang tak bisa ia tanggung. Rasa sakitnya sama besar dengan Hinata. Menganga, bernanah dan berkedut nyeri di dadanya.

Hinata menangisi orang yang ia sayangi. Sedang ia menangisi keadaan Hinata saat ini. Apa yang lebih menyakitkan dari, ketika menyadari bahwa kita sudah jatuh cinta, kepada orang yang tak bisa memberikan balasan?

Pergi menjauh dan membiarkan orang itu bahagia dengan orang lain tampak terlalu picik dan tidak realistis. Sasuke lebih suka berjuang agar Hinata mau melihatnya seorang. Tidak peduli jika harus menebusnya dengan waktu seumur hidup.

***p90***

Hiashi Hyuuga tidak pernah setenang itu. Aura keemasannya tak memudar, namun makin bersinar. Dalam dua puluh tahun rumah tangganya bersama pria itu, Megumi merasa hari inilah ia begitu rapuh dan bergantung pada pria ini.