WEDDING HELL

Bab 52 Siren (2)

Bab 52 Siren (2)

Yugao merasakan tengkuknya meremang, tangannya terkepal dingin. Dalam benaknya mengkalkukasi tentang melarikan diri. Tapi tampaknya kemungkinan itu nyaris mustahil. Jadi sebisa mungkin ia bernegoisasi dengan nyonya Uchiha.

"Jika kau berniat membunuhku, pikirkanlah sekali lagi. Dia tidak pernah mencintaiku, aku memang menjual diriku padanya, agar uang dan tempat tinggal bisa mencukupiku. Sejak dulupun, tidak ada cinta yang melibatkan kami."

Hinata angkat bahu, tampak tidak peduli. "Satu-satunya alasan aku tidak membunuhmu karena kau sudah melahirkan Tobi, bagiku cukup alasanmu untuk hidup. Itu saja."

"Kau melepaskanku?" Yugao nyaris tak percaya pada pendengarannya.

Hinata terkekeh. "Minum dulu, baru kita bicarakan rincian yang harus kau tebus karena berani bermain denganku." Hinata mengangkat cangkirnya sebatas dagu, seolah melakukan cheers yang tertunda.

****

Sai Himura menampilkan senyum kegirangan ketika Sasuke datang kepadanya malam ini. Lelaki Uchiha yang terbuang itu terlihat ceria dengan senyum yang tak luntur. Tentu saja, kedatangan si pria brengsek yang beruntung itulah penyebabnya. Sudah lama ia menunggu saat ini, menertawakan Uchiha utama tentulah momen langka.

"Kau tidak bertanya darimana aku mendapatkan luka ini?" Sasuke bertanya setengah heran.

"Oh, tidak perlu. Namun aku tahu kau pasti mendapatkannya dari pihak Hyuuga." Sai masih memberikan senyuman penuh kemenangan.

"Analisa yang bagus." Sasuke melirik Sai dengan disertai dengkusan. "Tentu saja fakta aku tidak melaporkan kejadian ini membuatmu berkesimpulan bahwa orang itu pastilah seseorang dari pihak istriku begitu, kan?"

Kali ini Sai terkekeh. "Pilihan cerdas dengan tidak bergerak agresif di mata mertuamu. Tapi aku sudah memperingatkanmu kan, bahwa mungkin para Hyuuga memang masokis. Mereka menikmati peran sebagai korban."

Sasuke membisu,

"—dan membenarkan tindakan kriminal mereka sebagai pemakluman." Tambah Sai, "Bukankah itu lebih berbahaya? Mereka adalah psikopat yang sesungguhnya."

"Tutup mulutmu." Sasuke memperingatkan.

"Sebelum terlambat, sebaiknya memang harus bergerak cepat kan. Sebaiknya kau tidak menyembunyikan apapun lagi di saat seperti ini."