WEDDING HELL

Bab 54 Skyfall (2)

Bab 54 Skyfall (2)

Kalau bukan dua pihak pengacara; milik Hyuuga dan Uchiha yang masih bernegosisasi mengulur penangkapannya sudah dipastikan tadi malam ia sudah tidur di jeruji besi.

Tempat terkutuk selain neraka yang bisa ia banyangkan. Sialan! Mana mau ia setara dengan Megumi, batinnya menjerit nyaring.

Ia memang keliru sudah terlalu lama mendiamkan masalah Yugao tanpa pengawasan dan balasan. Sementara ia sudah kehilangan banyak hal, pernikahan, bisnis, hingga Gaara. Jangan mimpi kalau Hinata berbaik hati! Jadi tindakan paling sempurna darinya adalah mengabulkan kepura-puraan Yugao.

Bukankah wanita licik itu mencari simpati orang lain dengan mengaku bahwa dirinya lumpuh? Jadi bukan salah Hinata kalau membuatnya tak bisa berjalan selamanya. Bukankah dengan begitu Yugao makin dapat simpati?!

Sebuah nada panggil khusus meraung-raung kembali dari gawai yang dikantonginya, membuatnya kembali sadar. Meraih benda itu dan menempelkannya ke telinga setelah menggeser layarnya Hinata memulai koneksi. "Hallo,"

"Mama," suara di ujung sambungan sana tersengar serak. Ada kesan sedih dan juga tak percaya, "apakah benar yang di koran itu?" Suara Tobi bergetar. Berusaha sebisa mungkin tidak memojokkan sang Mama yang paling dikasihinya.

Hinata memejamkan mata. Oh, God! Tobi masih berusia sembilan tahun. Dan ia telah menghancurkan imaji kebahagiaan anak itu. Bayangan tentang hilangnya figur ibu penyayang yang baru saja didapatkannya membuat Hinata digulung perasaan bersalah. Nyonya Uchiha yang terhormat menelan ludahnya pahit, rasa takut merambati kalbunya.

Suara isakan Tobi terdengar di telinganya. Dan itu membuat dadanya terasa sesak. Ia berusaha menyangkal datangnya sayatan perasaan menyesal. Namun gagal.

Ia bertanya dalam benaknya. Kenapa suara isakan tertahan Tobi mempengaruhinya?! Kenapa ia harus terganggu, dan merasa sakit karenanya. Sudut hatinya meraung merasakan perasaan bersalah. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa Yugao pantas menerimanya. Dan apa yang dilakukannya sudah benar. Tapi kenapa? Kenapa semua terasa salah? Terasa menyiksa.

"Mama..." Panggil Tobi dengan suaranya yang bergetar, "mereka semua bohong, kan?!"

Hinata benci mengakui jikalau semua yang tertulis di berita dan yang diucapkan semua orang itu benar adanya. Hinata tidak sanggup untuk menjawab Tobi. Tidak bisa melihat gurat kecewa dan juga rasa sedih itu. Kenapa ia juga yang menyebabkan mata polos itu terluka?